ALBIRRU

Lalat buah (Bactrocera) adalah hama yang banyak menyerang buah-buahan dan sayuran, termasuk tanaman cabai. Serangan lalat buah diperkirakan mencapai 4.790 ha dengan kerugian Rp21,99 miliar. Lalat buah merupakan salah satu hama penyebab gagalnya panen buah

ALBIRRU

Cabai merah besar (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang memilki nilai ekonomi yang tinggi. Cabai mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia

ALBIRRU

Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun istilah "hama" dapat digunakan untuk semua organisme, tetapi istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Organisme yang bersifat invasif juga merupakan hama

ALBIRRU

Sayur atau sayuran merupakan sebutan umum bagi bahan pangan nabati yang biasanya mengandung kadar air yang tinggi, yang dapat dikonsumsi setelah dimasak atau diolah dengan teknik tertentu, atau dalam keadaan segar. Istilah untuk kumpulan berbagai jenis sayur adalah sayur-sayuran atau sayur-mayur

ALBIRRU

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pupuk organik diartikan sebagai zat hara tanaman yang berasal dari bahan organik

Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Cara Efektif Mencegah dan Mengatasi Antraknosa pada Cabai

 

Cara Efektif Mencegah dan Mengatasi Antraknosa pada Cabai






Di sebagian besar wilayah Jawa penyakit ini sering disebut pathek, mungkin karena menyerupai penyakit kudis pada kulit manusia. Namun sebenarnya penyakit pathek pada cabai ini bukan disebabkan oleh bakteri sebagaimana pada kulit manusia, melainkan akibat infeksi jamur / cendawan patogen yang bernama colletotrichum sp, dan gejala penyakitnya dinamakan antraknosa. Sebenarnya antraknosa atau pathek ini tak hanya menyerang tanaman cabai, melainkan juga tanaman lain seperti terong, melon, tomat, bawang merah, hingga mangga. Spesies cendawan patogen yang menyerang sama-sama dari spesies collectrotricum sp, namun tiap-tiap jenis tanaman terdapat strain-strain yang berbeda hingga puluhan nama strain. Khusus di Indonesia strain jamur patogen penyebab antraknosa didominasi oleh colletotrichum acutatum, colletotrichum capsici dan colletotrichum gloeosporioides .

Dampak serangan antraknosa ini bisa sangat masif dan menyebabkan kerugian hasil panen hingga 65%. Oleh karenanya para petani berusaha sekuat tenaga melakukan berbagai cara untuk pengendaliannya, bahkan tak jarang mengkombinasi berbagai macam fungisida dalam setiap aplikasi. Tingkat serangan antraknosa pada suatu hamparan kebun cabai tergantung dari pola pengendaliannya, mulai sejak upaya preventif atau pencegahan hingga kuratif. Apabila serangan antraknosa diantisipasi sejak dini maka upaya pengendalian secara kuratif selanjutnya akan lebih mudah dengan tingkat serangan yang rendah.

Infeksi antraknosa pada cabai ditandai dengan gejala awal  berupa  bintik-bintik  kecil  yang berwarna kehitaman pada kulit buah.  Selanjutnya mengakibatkan  buah mengkerut,  kering dan membusuk. Pada  tahap  awal  infeksi  konidia colletotrichum  yang  berada  di permukaan kulit  buah cabai akan berkecambah dan  membentuk  tabung perkecambahan.  Setelah  tabung  perkecambahan  penetrasi  ke lapisan epidermis  kulit  buah  cabai maka akan  terbentuk  jaringan  hifa.  Kemudian hifa  intra  dan  interseluler  menyebar  ke seluruh  jaringan  dari  buah  cabai.

Inang antraknosa sebenarnya tidak hanya pada buah cabai tetapi juga terhadap tangkai, batang muda, dan percabangan baik pada fase vegetatif hingga generatif. Memang cukup jarang ditemukan serangan antraknosa pada saat fase vegetatif karena tanaman muda yang masih aktif tumbuh masih mampu mensintesis metabolit sekunder berupa zat-zat pertahanan alamiah. Zat pertahanan alami terbentuk sebagai respon tanaman ketika patogen berusaha menginfeksi sehingga dampak serangan tidak terlalu signifikan dan mudah diatasi. Meski demikian sangat mungkin sejak tanaman muda keberadaan spora-spora patogen ini sudah ada namun belum mendapatkan kondisi yang sesuai untuk berkembang pada tingkat serangan yang menimbulkan dampak. Pada lahan-lahan yang sebelumnya pernah terjangkit serangan antraknosa spora bisa terinvestasi dalam keadaan dorman di dalam tanah, sisa-sisa tanaman maupun pada tanaman-tanaman semak. Penyebaran spora antara lain melalui angin, tangan manusia, kaki-kaki serangga, gesekan antar tanaman, percikan air hujan hingga aliran air di permukaan tanaman. 

FAKTOR LINGKUNGAN

Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap terjadinya serangan antraknosa. Diantaranya kelembaban udara tinggi yang mencapai 90% serta suhu udara yang hangat berkisar 300C. Kelembaban udara bisa berasal dari penguapan air tanah pada saat cuaca panas, baik di musim hujan atau pada musim kemarau (pada lahan-lahan dengan pengairan saat cuaca terik, atau saat kemarau basah).

Selain suhu dan kelembaban, sanitasi lingkungan juga mempunyai kontribusi. Sebagaimana dijelaskan di atas, spora colletotrichum mampu bertahan dalam keadaan dorman di lingkungan sekitar, diantaranya pada tanah, semak, dan tanaman cabai di sekitar yang sudah terserang, atau penggunaan mulsa bekas yang pernah digunakan pada tanaman musim sebelumnya yang pernah terserang.

KONDISI TANAMAN

Selain faktor lingkungan berupa suhu dan kelembaban udara, kondisi tanaman juga berpengaruh pada serangan antraknosa. pH permukaan tanaman yang rendah atau asam (4,5 – 6,5) merupakan lingkungan yang kondusif bagi perkecambahan spora colletotrichum. Keasaman permukaan ini bisa berasal dari hujan malam hari yang meninggalkan lapisan asam, atau dari aplikasi bahan yang disemprotkan semisal pupuk daun atau pestisida yang bereaksi asam. Faktor permeabilitas dan sifat hipertonis (kaya cairan) dari sel-sel tanaman juga memudahkan haustoria (akar fungi) untuk melakukan penetrasi ke dalam epidermis inang sasaran. Buah cabai yang masak memiliki permeabilitas tinggi, dan mudah menyerap air sehingga membuatnya menjadi hipertonis, suatu kondisi yang memenuhi syarat bagi penetrasi patogen tersebut.

KETAHANAN TANAMAN DAN GENETIKA

Genetik tanaman membawa sifat-sifat ketahanan bawaan yang berbeda-beda. Pada varitas-varitas cabai yang mempunyai ketahanan bawaan kuat akan mampu menangkal serangan patogen sejak awal fase serangan. Ketahanan bawaan ini berupa kemampuan tanaman mensintesis senyawa fitoaleksin dan fenolat yang dapat menekan perkembangan patogen. Varitas-varitas yang tahan inilah yang disebut dengan varitas toleran dimana tanaman ini mampu secara alamiah meminimalisir tingkat serangan patogen seperti antraknosa. Selain ketahanan bawaan, tipikal fisik tanaman juga dapat membentengi tanaman dari serangan spora patogen, misalnya pada buah cabai yang berkulit tebal dan keras akan mempersulit haustoria jamur untuk menembusnya. Adakalanya fisik tanaman ini bisa direkayasa dengan suplai unsur hara tambahan. Penambahan unsur kalsium saat fase generatif menurut beberapa penelitian dapat meningkatkan ketebalan dinding sel pada buah, serta penambahan unsur boron dapat memperlambat penguraian asam amino pada buah masak sehingga kulit buah menjadi lebih kaku.  

PENCEGAHAN SELAMA PERSIAPAN TANAM

  1. Mempersiapkan sistem drainase sebaik mungkin yang tidak memungkinkan air menggenang dalam waktu lama di lahan.
  2. Panggunaan mulsa juga dapat mengurangi penguapan air tanah penyebab kelembaban tinggi.
  3. Sebelum mengolah tanah bersihkan lingkungan dari sisa-sisa tanaman dan semak-semak belukar, jika perlu sisa-sisa tanaman dibakar atau dibuat kompos di logasi yang terpidah dari lahan.
  4. Buat jarak tanam lebih lebar dengan pola zig-zag untuk menghindari kelembaban udara serta memberikan akses sinar matahari secara merata.
  5. Pilih varitas cabai yang tahan dan toleran terhadap antraknosa.
  6. Jika lahan bersebelahan dengan tanaman cabai tetangga yang sudah terserang antraknosa buatlah pagar pelindung dari plastik mulsa.
  7. Saat pembuatan bedengan tambahkan dolomit pada kedalaman yang sekiranya terjangkau oleh akar.
  8. Jika lahan yang akan ditanami punya sejarah serangan antraknosa, akan lebih baik jika ditambahkan agens hayati seperti trichoderma atau gliocladium.

ANTISIPASI DI PERTANAMAN (PENGENDALIAN PREVENTIF)

  1. Antraknosa biasanya menyerang secara masif saat tanaman berbuah, maka disarankan untuk meningkatkan pemberian hara berupa kalsium dan fosfat di saat tanaman menjelang berbunga.
  2. Apabila turun hujan pada malam hari lakukan penyemprotan  KOVER WP  untuk mengurangi keasaman pada permukaan tanaman terutama buah.
  3. Hindari penggunaan pupuk daun yang bersifat asam selama tanaman berbuah. Untuk penggunaan pupuk daun fase generatif direkomendasikan menggunakan  KALINET  yang tidak bersifat asam.
  4. Aplikasi kalsium karbonat berbentuk partikel tepung tidak larut air, karena bentuk ini tidak meninggalkan lapisan asam pada permukaan buah. Bisa menggunakan  CALBOVIT  atau  CAL-HA  yang sudah dilengkapi unsur mikro kationik dan humat.
  5. Gunakan fungisida protektif berbahan aktif tembaga hidroksida.
  6. Lakukan pengendalian hama serangga dengan baik karena seringkali spora jamur terbawa oleh kaki-kaki serangga dan berpindah dari tanaman sakit ke tanaman yang masih sehat.

PENGENDALIAN KURATIF

  1. Dilakukan apabila tanaman sudah terserang antraknosa, mungkin karena kurang dilakukannya pengendalian preventif sebelumnya.
  2. Aplikasi fungisida kontak dikombinasi dengan sistemik. Fungisida kontak yang direkomendasikan berbahan aktif tembaga hidroksida dengan dicampur  KOVER WP .  Sedangkan fungisida sistemik bisa yang berbahan aktif benomil, metil tiofanat, metalaksil, dimetomorf, difenokonazol, tebukonazol.
  3. Selama tindakan kuratif langkah-langkah seperti dalam pengendalian preventif tetap harus dilakukan untuk menangkal serangan yang berkelanjutan. Perlu diingat bahwa selama kita melakukan tindakan kuratif untuk membunuh jamur patogen, invasi spora jamur pendatang tetap berlangsung.
  4. Secara rutin bersihkan buah cabai yang sudah terinfeksi baik yang masih di pohon maupun yang sudah rontok, masukkan ke dalam kantong plastik dan bawa ke tempat yang jauh atau dibakar di lokasi yang terpisah dari lahan.
  5. Dalam melakukan penyemprotan fungisida kontak jangan hanya berfokus pada tanaman tetapi perlu juga menyemprot permukaan mulsa karena di permukaan mulsa juga terdapat serpihan-serpihan spora.
  6. Setiap aplikasi penyemprotan daun, usahakan tidak membuat tanaman basah kuyub tetapi membentuk lapisan tipis yang merata, dengan bantuan ajuvan seperti  OMSTICK  /  TARASTICK   DISPER  untuk aplikasi pestisida kontak, dan  NOZZEL  /  LOADER  untuk pestisida sistemik atau pupuk daun.

PEMULIHAN

Setiap tanaman yang mengalami serangan hama dan penyakit tentu tidak mampu berproduksi secara normal. Sebagian organ telah rusak, dan metabolisme tanaman mengalami gangguan. Oleh karenanya selain upaya-upaya pengendalian hama dan penyakit harus disertai upaya pemulihan kondisi tanaman agar kembali tumbuh dan berkembang dengan baik. Pemulihan tanaman dilakukan dengan pemberian pupuk mikro melalui daun untuk menormalisasi kinerja enzim-enzim dan merangsang pembentukan hormon-hormon alamiah bagi pembentukan sel-sel baru secara lebih cepat.  VITARON SL  merupakan pupuk daun yang mengandung unsur-unsur mikro dalam bentuk chellate yang aman, efektif dan direkomendasikan untuk memulihkan kondisi tanaman setelah terserang patogen. Waktu dan interval aplikasi tidak harus menunggu hingga masalah antraknosa ini tuntas tetapi dibarengkan dengan aplikasi pestisida secara rutin.


Link Pembelian

kover wp
Vitaron SL
Kalinet
Cal-Ha
calbovit

Cara aktivasi tricoderma

Cara aktivasi tricoderma Anfush



Tujuannya = agar mikroba yg aktif bertambah banyak
Bahan:
1. Anfush = 100 gr
2. Kentang = 100 gr
3. Gula = 100 gr
4. Air hujan sbg pengencer = 1.800 ml
Cara pembuatan :
Potong kentang menjadi kecil, kemudian direbus dengan air sebanyak 500 MI selama 15 menit. Kemudian diblender dengan air rebusannya sampai halus.
Kemudian Gula sebanyak 100 gram, anfush 100 gram di campur, kentang yang udah diblender dan air sebanyak 1.300 ml dicampur menjadi satu dalam ember di aduk sampai gulanya larut, kemudian di tutup dan di frekmentasi selama 5 hari.
Dosis untuk dikocor cabe :
10-20 liter per Ha
Atau
20ml-40ml (trichoderma yg sudah diaktifasi) /10L air
Trico yg sudah di aktivasi Hanya bertahan 1 bulan, jadi buat secukupnya.
Semoga bermanfaat

pembelian anfush Link shopee

5 Fungisida Bahan Aktif Tembaga

Hai Sahabat Albirru,

Bahan aktif tembaga seringkali hadir dalam banyak merk fungisida yang berbeda. Bahan aktif tembaga pada fungisida juga memiliki beberapa variasi, seperti hidroksida, oksida, oksiklorida, serta sulfat. Fungisida yang mengandung tembaga digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur, seperti hawar daun, blas, dan lainnya.Bahan aktif tembaga ini merupakan bagian dari Ditio Karbamat dengan kode kerja M3 untuk cara kerjanya sebagai fungisida. Cara kerja tersebut melibatkan penghubungan dengan berbagai spektrum. Dapat berperan sebagai fungisida dan bakterisida. Kemungkinan timbulnya resistensi terhadap bahan aktif tembaga ini jauh lebih rendah. Disamping itu, tembaga juga bisa berperan sebagai pupuk mikro utk tanaman.


Di bawah ini terdapat lima merek fungisida yang mengandung bahan aktif tembaga dari berbagai produsen pestisida.

 

Copcide 77WP

Fungisida Copcide 77WP adalah produk inovatif dari Cap Kapal Terbang yang mengandung bahan aktif tembaga hidroksida (Cu(OH)2), telah terbukti efektif dalam menanggulangi serangan jamur dan bakteri pada tanaman.Pestisida yang mengandung 77% tembaga hidroksida memiliki kemampuan ganda dalam mengontrol pertumbuhan jamur dan bakteri secara efektif. Copcide 77WP memiliki partikel yang lebih kecil karena berbentuk tepung (Wettable Powder/WP), sehingga memiliki luas permukaan partikel yang lebih besar untuk meningkatkan efektivitas dalam mengontrol serangan penyakit.Fungisida ini memiliki ciri khas 'broad spectrum' yang berarti kemampuannya meluas dalam mengendalikan berbagai jenis organisme fungi. Dengan begitu, kita dapat mengendalikan berbagai jenis jamur dan bakteri secara bersamaan.Cara kerjanya melibatkan kontak dan memiliki sifat yang protektif. Pada tanaman cabe, kita dapat mengontrol munculnya bercak daun dan antraknosa. Kuma dosanya 2g/l – 4g/l.Harganya sekitar 35 ribu rupiah untuk satu paket fungisida berat 100 gram.Funguran 80 WP, a fungicide.

 

FUNGURAN 80 WP

ialah sejenis fungisida yang mengandungi Tembaga Hidroksida 80% sebagai bahan aktifnya. Fungisida ini berkesan dalam mengawal penyakit hasil daripada kulat pada tanaman seperti cili, kentang, tomato, dan teh.Fungisida ini memiliki jangkauan yang luas. Juga bisa memberikan nutrisi bagi tanaman karena mengandung tembaga yang dapat membuat tanaman tumbuh lebih subur dan memberikan hasil yang optimal.Funguran 80 WP memiliki daya rekat yang kuat, sehingga tidak mudah tercuci oleh air siraman maupun hujan.Tidak bersifat korosif, tidak merusak alat semprot, dan tidak menyebabkan mampet pada nosel. Tidak pula menimbulkan resistensi ketika digunakan dalam jangka waktu yang lama.Untuk tanaman cabe, jumlah yang perlu diberikan adalah antara 0. 5 hingga 1 gram per liter. Ini digunakan untuk mengatur penyakit antraknosa.Fungisida ini dijual sekitar 110 ribu per kemasan 500 gram.

 

Fungisida NORDOX 56WP

bisa membantu dalam mengendalikan perkembangan jamur pada tanaman.Mengandung 56% bahan aktif Tembaga oksida, berada dalam formulasi WP.Bagaimana Fungisida NORDOX 56 WP beroperasi adalah dengan bertindak sebagai Fungisida dan Bakterisida. Fungisida digunakan sebagai penangkal jamur yang efektif berkat kandungan aktif tembaga dan tambahan mikro nutrien seperti kalsium dan magnesium, yang dapat memberikan efek "Tonic" pada tanah yang kekurangan nutrisi.Tanaman akan berkembang dengan baik, bertumbuh lebih banyak, dan tetap terhindar dari serangan siput. Sebagai penangkal bakteri dan jamur, hal ini dapat membatasi penyebaran penyakit seperti kresek atau Blast.Jika masih terdapat serangan penyakit yang terbawa dari tempat lain, Anda bisa menggunakan fungisida NORDOX 56 WP setiap seminggu sekali sampai serangan tersebut berhenti berkembang.Penggunaan Nordox untuk cabe dapat dilakukan dengan cara penyemprotan. Dosis yang diberikan adalah sekitar 1 hingga 2 gram untuk setiap liter air atau setara dengan 1 sendok makan untuk setiap tangki berukuran 15 liter.Pricenya sekitar 25 ribu untuk kemasan 100 gram.KUPROXAT 345 SC fungicide.

 

KUPROXAT 345 SC

adalah fungisida yang juga berkeampuhan sebagai bakterisida. Menggunakan bahan aktif tembaga oxysulfat direkomendasikan untuk mengendalikan penyakit hawar daun pada padi sawah (Kresek), penyakit antraknosa pada tanaman cabai, penyakit blendok pada jeruk, dan penyakit busuk buah pada tanaman kakao. KUPROXAT 345 SC, fungisida yang efektif, mengandung tri-basic Copper Sulfate sebagai bahan aktif. Partikelnya sangat halus dan daya melekatnya yang baik membuatnya efektif sebagai fungisida maupun bakterisida.Produk ini adalah satu-satunya yang mengandung tembaga aktif dan dirumuskan dalam bentuk cair.Spektrum yang meluas ini beroperasi di berbagai situs, mengakibatkan ketahanan jamur menjadi sangat minim.Pelepasan ion tembaga dikontrol dengan baik dan berlangsung secara perlahan, yang membuatnya tidak beracun bagi tanaman dan mampu memberikan perlindungan jangka panjang terhadap tanaman dari serangan jamur dan bakteri.Ukuran partikel yang paling kecil dibanding fungisida tembaga lainnya, sehingga cocok untuk menutupi tanaman dengan baik.Memiliki sifat tahan terhadap air hujan. Formulasi dan larutan semprot PH-nya netral, yang membuat tanaman tetap tenang saat disemprot.Kestabilan suspensi yang tinggi di dalam tangki memastikan tidak terjadi pengendapan atau penyumbatan pada nozzle.Dosis fungisida ini untuk mengendalikan antraknosa pada tanaman cabe adalah antara 1 hingga 2 liter per hektar.Fungisida dengan harga 500 mililiter ini sekitar 77 ribu rupiah.

 

Champion 77WP fungicide

CHAMPION 77 WP adalah fungisida kontak berwarna biru yang bisa disuspensikan untuk menangani penyakit antraknosa pada tanaman cabai, semangka, dan buncis, serta penyakit cacar daun pada tanaman teh.Champion 77 WP dapat berperan sebagai zat yang membunuh jamur dan bakteri.Dengan memiliki jangkauan spektrum yang luas dan bekerja di beberapa lokasi, risiko jamur resisten menjadi sangat minim.Partikelnya yang sangat kecil dibanding fungisida tembaga lainnya menjadikannya memiliki penutupan yang optimal pada tanaman.77 Wp Champion is also resistant to rainwater wash. Kestabilan dan suspensi yang tinggi pada larutan di dalam tangki memastikan tidak terjadi pengendapan dan nozzle tidak tersumbat.Bahan utamanya adalah tembaga hidroksida sebanyak 77%. Fungisida ini sangat efektif dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabe. Dalam penggunaannya, cukup memberikan dosis 1. 5 - 3 g/l saat ada gejala serangan. Lakukan perlakuan tersebut setiap 7 hingga 10 hari, mengikuti kondisi serangan yang terjadi.Harganya sekitar 190 ribu untuk 1 kg fungisida.Itu tadi, Juragan, beberapa jenis fungisida yang mengandung bahan aktif tembaga. Penggunaannya sebaiknya tidak terlalu berlebihan. Walaupun kuat, ada kemungkinan nanti bisa beracun bagi tanaman. Daunnya terlihat mulai kering, terutama yang masih muda.Pemakaian sebaiknya tidak dicampur dengan surfaktan seperti perekat, perata, atau penembus pestisida. Karena surfaktan dapat meningkatkan risiko cedera pada tanaman. Tidak disarankan mencampurkannya dengan produk asam.Sebagian besar insektisida atau fungisida biasanya bersifat asam.Fungisida yang mengandung bahan aktif tembaga ini termasuk dalam kategori pestisida alkali. Sifat alkali ini berpotensi mengubah struktur kimia formula yang berasaskan minyak, contohnya EC, E We, E, serta mengubah struktur kimia formula larut air seperti A S, SL, SP, SC, atau WSC.Jika terjadi pencampuran fungisida tembaga dengan formula yang tidak larut dalam air atau dapat disuspensikan, bisa timbul reaksi antara fungisida tersebut dan zat kimia yang mengandung sulfur seperti thiol atau thiokarbamat.

 

Berbagai Cara Pemupukan Tanaman Budidaya

Hai Sahabat Albirru...

Pemupukan dilakukan dengan tujuan memberikan suplementasi nutrisi tambahan pada tanah, yang nantinya akan diserap oleh tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung, guna mendukung proses metabolisme vegetasi.

Nutrisi yang diperlukan terdiri dari makronutrien seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, serta mikronutrien seperti sulfur, kalsium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan elemen lainnya.Pemupukan dapat dilaksanakan melalui dua metode, yakni melalui sistem akar dan sistem daun.

Pemupukan melalui akar dilakukan dengan tujuan memberikan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman pada tanah.

Secara umum, pemberian pupuk melalui akar dapat dilakukan dengan metode disebut sebagai disebar (broadcasting), ditempatkan dalam lubang (spot placement), atau disusun dalam larikan atau barisan (ring placement).

Pemberian pupuk melalui daun dapat dilakukan dengan cara penyemprotan.

Aplikasi pemberian pupuk pada tanaman semusim dan tahunan bersifat berbeda. Dalam tanaman semusim seperti kacang-kacangan, sayuran, padi, jagung, dan tanaman lainnya, metode pemupukan umumnya dilakukan melalui penyebaran, penyemprotan di lubang tanam, atau larikan.

Pada tanaman tahunan seperti tanaman buah-buahan, kopi, teh, kakao, kelapa, dan lainnya, metode yang digunakan adalah penempatan cincin.Berikut adalah metode-metode pemupukan yang lazim diterapkan dalam budidaya tanaman.

1.       Televising

Pemupukan dengan metode penyebaran diaplikasikan ketika penanaman dilakukan secara rapat dan teratur dalam barisan, seperti yang biasa diterapkan pada tanaman padi.

Tersebutnya metode ini sesuai untuk tumbuhan yang memiliki sistem perakaran dangkal, pada tanah yang memiliki kesuburan yang memadai, serta pada dosis pemupukan yang tinggi.

Metode ini juga dapat diimplementasikan saat proses pengolahan lahan dengan memberikan pupuk kandang sebelum penanaman di area yang telah disiapkan.

Keuntungan pemberian pupuk secara penyemaian adalah efisiensi waktu dan tenaga yang lebih besar, serta kemudahan aplikasi dalam proses pemupukan tanaman budidaya.

Di sisi lain, kekurangan dalam metode ini adalah adanya risiko penguapan atau volatilisasi amonium (NH4) menjadi gas amonia (NH3), yang dapat merangsang pertumbuhan gulma.

 

2.       Placement of the ring

Pupuk disebarkan di antara barisan tanaman dan kemudian diselimuti kembali dengan lapisan tanah.

Penempatan cincin umumnya digunakan pada tanaman tahunan dengan cara menaburkannya mengelilingi tanaman dengan jarak yang sejajar dengan daun terluas (tajuk daun), kemudian menutupnya kembali dengan tanah.

Metode ini dapat diterapkan ketika jarak tanaman tidak padat, kesuburan tanah rendah, dan pertumbuhan akar tanaman terbatas.

Manfaat aplikasi secara larikan atau barisan adalah mempermudah tanaman mengambil nutrisi pupuk dan mengurangi kemungkinan kehilangan nutrisi pupuk.

Namun, kelemahan aplikasi ini termasuk rendahnya kesuburan tanah jika dosis pupuk terbatas dan ketidakmerataan penyebaran pupuk

 

3.       Placement of spots

Caranya adalah dengan membuat lubang di samping tanaman dengan kedalaman sekitar 5-10 cm, lalu memasukkan pupuk ke dalam lubang tersebut, kemudian menutupnya dengan tanah.Penerapan aplikasi pupuk secara penempatan titik dapat dilakukan ketika jarak tanam mencukupi. Pemberian pupuk pada tanaman jagung dapat dilakukan dengan menggunakan metode ini.Salah satu keunggulan pemberian pupuk dengan metode penempatan titik adalah bahwa pupuk tidak rentan menguap dan diterapkan secara langsung ke dekat akar tanaman.
Kelemahan yang terdapat adalah lamanya waktu yang diperlukan serta pengaturan takaran pupuk untuk mencapai konsistensi yang seragam pada setiap lubang tanam.

Pemupukan melalui daun, atau secara teknis dikenal sebagai aplikasi foliar, merujuk pada metode pemberian pupuk yang larut dalam air dengan tingkat konsentrasi yang sangat rendah. Selanjutnya, campuran tersebut kemudian disemprotkan secara langsung pada daun tanaman menggunakan alat semprot manual konvensional, seperti hand sprayer.

Apabila luas area budidaya bertambah, disarankan untuk menggunakan alat semprot knapsack. Aplikasi tersebut dilakukan pada bagian inferior daun dengan tujuan memastikan bahwa nutrisi dapat diserap dengan lebih efisien melalui stomata daun.

Demikianlah beberapa metode pemupukan yang umum digunakan untuk memelihara tanaman budidaya, diharapkan dapat memberikan manfaat.

5 Cara Mengolah Tanah untuk Lahan Pertanian

5 Cara Mengolah Tanah untuk Lahan


 

 


Hai Sahabat Albirru….

Berikut adalah lima teknik pemrosesan tanah yang biasa digunakan oleh petani untuk pertanian.

1.     1. Clearing of land

Langkah awal dalam mempersiapkan tanah pertanian adalah dengan melakukan pembukaan lahan atau sering juga disebut sebagai land clearing atau melakukan pembersihan lahan manual. Biasanya saat membersihkan lahan, banyak orang akan terlibat, terutama jika lahan yang harus dibersihkan cukup luas. Alat yang dipergunakan juga cukup sederhana seperti cangkul, parang, sabit, dan sejenisnya. Hinggah kini, seiring berjalannya waktu, proses pembersihan lahan juga dilakukan dengan bantuan mesin pertanian, seperti traktor. Dengan demikian, pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat tanpa memerlukan tenaga yang terlalu besar. Setelah lahan disiapkan dengan baik, barulah dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman pertanian.

2.     2. Penggaruan tanah

Cara mempersiapkan tanah ini sebenarnya hampir mirip dengan metode land clearing, tetapi lebih fokus pada penggunaan alat tradisional seperti garu dan cangkul. Tujuannya adalah untuk meratakan gundukan tanah yang keras di lahan tersebut. Apabila gumpalan tanah telah terurai dengan rata, ia akan menjadikan struktur dan tekstur tanah lebih sesuai untuk ditanami tanaman dengan lebih lancar. Sebaiknya dilakukan pemupukan terlebih dahulu sebelum melakukan penggaruan tanah, menurut para ahli pertanian. pemberian Pupuk yang dimaksud di sini adalah baik pupuk organik atau  pupuk anorganik. Ketika terjadi penggemburan tanah, pupuk akan teraduk secara merata pada lapisan tanah yang sudah disiapkan.

3.     3. Pemupukan

dilakukan untuk memberikan nutrisi tambahan pada tanaman.Selanjutnya dalam proses penyiapan tanah untuk lahan pertanian adalah melaksanakan pemupukan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesuburan unsur hara di dalam tanah tersebut. Jika pemupukan dilakukan lebih awal, ini akan mendorong akar untuk tumbuh lebih dalam. Terdapat baiknya menggunakan pupuk yang telah direkomendasikan.Sebagai contoh, untuk pupuk makro tunggal seperti Urea, SP36, dan juga pupuk makro majemuk seperti NPK 15 yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Anda juga dapat mengaplikasikan pupuk kandang. Jika tanah diketahui berasam saat pemupukan, tambahkan kapur dolomit dengan menaburkannya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan tingkat keasaman tanah di lahan pertanian.

4.      4. Pembajakkan tanah

Kamu bisa melakukan hal ini setelah hujan turun atau bahkan sebelum hujan. untuk Pembajakan tanah sangat tepat bagi tanah dengan struktur yang tidak terlalu keras maupun lembek. Masyarakat agraris di pedesaan seringkali tetap menggunakan metode tradisional dalam membajak sawah, seperti memanfaatkan sapi atau kerbau untuk mengoperasikan alat bajak.Bagi petani modern, pembajakan tanah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi pertanian mutakhir seperti traktor. Dua cara itu sebetulnya bagus dilakukan di segala jenis kondisi tanah. Meskipun, penggunaan traktor dalam pembajakan lahan dianggap lebih efisien dan cepat, hal ini dapat memberikan manfaat berupa penghematan waktu dan tenaga bagi para petani.Alat untuk mengubah format.

5.     5. Metode konversi

adalah teknik pengolahan tanah yang mungkin tidak begitu diminati oleh petani. Karena program ini hanya dijalankan setahun sekali untuk daerah ramai dan dua tahun untuk daerah yang sedang ramai. dan Teknik konversi sendiri terbagi menjadi dua bagian yakni olah tanah minimum (OTM) dan olah tanah strip (Strip Tillage).Olah Tanah Minimum (OTM) adalah teknik pengolahan tanah dengan mengurangi frekuensi pengolahan, entah itu dilakukan setiap satu tahun atau dua tahun sekali. Untuk pengolahan tanah strip, pengolahannya hanya dilakukan pada alur yang akan ditanami. Strip atau alur tanaman ini dibentuk sesuai dengan keadaan permukaan tanah. Bagian yang akan diolah adalah barisan yang telah ditanami benih.Begini penjelasan mengenai bagaimana mengelola tanah untuk area pertanian yang bisa Saudara lakukan. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan memperluas pemahaman Anda.